Jumat, 08 April 2016

Ketika bicara dengan diri sendiri

| | 0 komentar

Kalau lagi ngerasa jatuh sejatuh jatuhnya, sedih sesedih sedihnya. Kadang gitu pengen ngasih waktu buat sendirian. Menikmati sunyinya hidup di pedalaman kalimantan sana. Tidur di tenda di hangatkan api unggu. Motong rambut yang udah 6 tahun sengaja di panjangin jadi pendek banget. Berbaur dengan orang baru dan meninggalkan orang orang lama yang udah terlanjur kenal aku. Pergi sejauh jauhnya sampai lupa rumah. Hidup di tempat dimana aku bisa merasa baru

Eh Tapi tunggu, worth it ga sih? Enggak deh!
Saat kamu ga berdaya di bawah garis yang sudah di buat tuhan, saat kamu di jahati waktu yang tiap harinya seolah bilang 'lihat, aku bisa bikin kamu tambah tua tiap harinya. Dan tiap harinya aku bikin km deket sama ajalmu' dan kamu masih mau nyia nyiain waktu buat merasa jatuh sejatuhnya dan sedih sesedihnya?

Itu kamu mau kepedalaman kalimantan, jauhin keluarga, dan motong rambut yg udh kamu idamkan sejak 6 thn lalu, kamu mau apa? Mau lari dari masalah? Tunggu deh....km itu lari kemana? Kamu lari menjauh? Yakin mau lari menjauh saat seharusnya kamu lari mendekati masa depanmu? Inget, km lagi di ketawain sama waktu. Yang tiap hari jadi peratara yang deketin km sm ajalmu. Kamu mau ketemu si ajal tanpa sempet meraih sesuatu yang kamu impi impikan?

Jadi inget kalimat ini "It's not a sin to get knocked down. It's a sin to stay down."

Udah bangun, kalau punya kaki tuh jangan manja. Kalau jatuh ya bangun. Punya hati juga jangan manja. Kalau sakit cepet di sembuhin.
Read more...

Sabtu, 26 Maret 2016

Kereta dan Cinta

| | 0 komentar

Ketika aku memasuki stasiun aku tau aku akan merindukan rumah. Dari perjalanan panjang yang akan aku tempuh, aku seakan tau bahwa itu akan melelahkan. Semua demi cita, perjalanan yang melelahkan itu ku tempuh.

Dalam perjalanan ini terjadi tepat saat hatiku yang aku patahkan sendiri belum sepenuhnya sembuh. Saat aku memutuskan menyerah pada cinta yang telah aku rawat selama tiga tahun ini. Demi apa? Demi cita yang masih aku perjuangkan, bahkan belum aku genggam. Aku seperti bertaruh pada luka. Jadi aku ingin menyembuhkan diri dalam perjalanan ini. Menjauh dari kenangan tiap kilo meternya. Berharap jarak akan menyembuhkan. Sebenarnya aku tak lagi menangis. Tapi terkadang kenangan yang tiba tiba datang masih menitipkan pilu.

Terkadang merasa bodoh untuk mempertaruhkan cinta untuk cita cita yang belum tergenggam, terkadang merasa tak akan ada pria yang mencintaiku seperti dia, terkadang merasa tak akan ada pria yang mengatakan 'aku ingin kita segera menikah' padaku, di hadapanku, dengan wajah gugup dan senyum manis. Tapi dari yang selalu aku pelajari darinya 'seberapa perihnya hatimu, kau harus menjalani apa yang menjadi pilihanmu' dan ini yang membuatku berusaha menjalani pilihanku. Ya, pilihanku tanpa dirinya. Sebenarnya aku merasa telah sembuh, hanya saja bayangan rasa sakit karenanya kemarin, masih sering terlintas.

Ku tarik koperku kedalam stasiun menunggu kedatangan kereta yang akan membawaku ke Yogjakarta. Di sebuah kursi aku mencoba berbicara dengan seorang wanita di sampingku karena ia terlihat ramah. Ya, aku hanya menyapa orang yang ramah. Setelah bosan ku buka buka sebuah buku yang di beri oleh seorang pria. Pria yang saat ini paling dekat denganku, satu satunya pria yang dekat denganku.

Pria yang terkadang membuatku menarik otot pipiku saat membaca pesan darinya. Pria yang membacakan buku di telfon sampai aku tertidur pulas. Pria yang tidak membiarkan aku bergadang karena ia tau ketika bergadang sebenarnya aku sedang menyiksa diriku sendiri dengan kemungkinan yang aku fikirkan tentang hidup. Pria yang memastikan aku tidur baru ia akan tidur. Pria yang ketika aku mengingatnya, satu satunya yang melukai ku hanya ketika membayangkan ia pergi dari hidupku. Pria yang menyembuhkan satu persatu lukaku. Menukar luka ku dengan senyuman. Pria yang kepadanya aku ingin menitipkan hatiku. Tapi tidak sekarang.

Aku butuh rasa yakin, yakin bahwa cinta yang ia tawarkan padaku tak sebercanda cinta anak muda pada umumnya, yang datang lalu pergi hanya karena bosan. Aku butuh, butuh cinta yang lebih dewasa dari cintaku yang telah kandas. Aku butuh, butuh di yakinkan bahwa ini adalah petualangan terakhirku untuk mencari cinta.

Ku tutup novel 'tuesdays with morrie' darinya. Novel yang sangat bagus. Novel yang membuatku mengerti perasaan ayahku saat melawan maut hingga akhirnya berdamai dengan maut. Novel yang saking bagusnya membuatku menangis berkali kali.

Ku buka buku latihan soal untuk tes kerja. Ku kerjakan sambil menunggu kereta yang terlambat 40 menit.

HP ku bergetar beberapa kali, dan aku membiarkannya. Sampai pada soal yang membuatku lelah berfikir, aku membuka handphone ku.

'Serius sekali belajarnya' aku kaget. Hanya penumpang yang boleh masuk ke stasiun. Bagaimana bisa pria yang selalu berusaha membuatku tertawa riang ini tau aku sedang belajar?Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu ke belakang.

Aku sangat kaget. Ia d belakangku. Di balik jendela dengan terali besi. Ia menertawakan raut wajahku yg keheranan bercampur rasa senang.

'Ekspresimu loh...!!' Katanya

'Kapan? Sejak kapan disini?' Tanyaku yang masih heran.

Ia hanya tersenyum....dan hatiku telah goyah untuk kesekian kali karenanya.

Kami berbicara dari balik jendela dengan terali besi. Hanya beberapa jari yang bisa saling sentuh. Tiba tiba aku tak ingin pergi aku ingin melihatnya lebih lama. Tapi kereta datang. Aku harus mengejar cita ku yang karenanya aku sempat terluka.

Dari dalam kereta aku masih melihatnya di balik jendela stasiun. Aku mengirimnya pesan untuk pulang. Namun ia masih berdiri di jendela. Okey, aku mulai sedih dan ingin rasanya menangis di pandang seperti itu dari kejauhan, membuatku berfikir takut tak berjumpa lagi dengannya.

Aku masih menatapnya, saat tiba2 kereta bergerak dan sosoknya tak lagi terlihat.

Tapi, kereta memang akan selalu membawa kita pergi, tapi cinta selalu yakin untuk menunggu kedatangan kita.
Read more...

Kamis, 10 Maret 2016

Nikahi aku lagi

| | 0 komentar

Aku memandang sosok yang berbaring d hadapanku. Dengan segenap tenaga, dengan sekuat mungkin ku tahan pilu yang menggebu gebu di hati. Ku tahan sebisa mungkin air mata agar tak jatuh bercucuran. Tapi yang terjadi air mataku tumpah, membasahi lengannya. Lengan Priaku...

Aku menyembunyikan wajahku di lengan yang hampir selalu menjadi bantalan tidurku selama 13tahun ini.

Sayangku,,,,kau tau mengapa aku menangis? Rasanya aku juga turut merasakan luka dan lelahmu. Jarum infus ini pasti mengekangmu, selang yang di masukkan melalui hidungmu pasti perih rasanya, atau bekas operasi ini....aku melihat semua dan aku ikut merasakan perihnya walau aku tak turut serta mendapatkan suntikan dan operasi operasi itu. Tak bisakah kita sungguh sungguh berbagi rasa sakitnya?

Sudah cukup setahun ini kau tanggung semua perih demi tetap hidup dan melihatku d sampingmu, melihat buah hati kita tertawa riang memanggilmu 'ayah....'. Sayang, sudah cukup kau tanggung semua perih demi melawan kanker stadium akhir ini. Bukankah saat ini sudah saatnya aku mengikhlaskanmu? Aku yang selama ini dengan egoisnya meminta kau menahan semua perih pengobatan ini demi untuk tetap menatap wajahmu saat bangun tidur. Aku yang egois tetap ingin hidup bersamamu walau kau selalu berkata 'Aku lelah, aku tak ingin lagi melakukan pengobatan ini' tapi aku selalu memintamu bertahan, bertahan demi aku dan anak kita. Aku yang egois dan ingin kau sembuh dan tetap menemaniku sampai kita menua bersama seperti janjimu saat kau pinang aku dulu. Begitulah wanita sayang,,,,selalu ingat pada janji yang d berikan oleh yang terkasih.

Sudah aku ikhlaskan dirimu, agar kau tak harus menjerit kesakitan saat proses pengobatan. Sudah ku ikhlaskan walau aku tak bisa membayangkan hidupku yang baik baik saja tanpamu. Sudah ku ikhlaskan, walau aku akan melalui hidupku dengan pilu. Sudah ku ikhlaskan demi melihatmu hidup tenang, walau dengan begitu kau harus hidup di alam yang berbeda denganku.

'Berjanjilah, aku tidak bisa pergi tenang jika kau tak berjanji padaku' suaramu yang tak seriang dulu menghentikan lamunanku. Membuat airmataku jatuh lebih deras.

Aku menggeleng.

'Berjanjilah. Ku mohon... Menikah lagi lah setelah aku pergi'

Aku masih menggeleng. Ini perih sekali. Bagaimana bisa aku membayangkan pernikahan saat aku tidak bisa membayangkan hidup yang baik baik saja tanpanya?

'Demi Alysa...' ia memandang buah hati yang ia berikan padaku. Alysa yang sedang bermain dengan riang tanpa tau bahwa ayahnya sedang berjuang melawan maut. Ah tidak, priaku sepertinya sedang berdamai dengan maut.

'Aku mohon, aku tak bisa pergi dengan tenang jika kau tak berjanji...' suaranya semakin lirih. Ia sudah mulai kesulitan bernafas. Aku pilu sepilu pilunya. Tapi aku masih menggeleng.

'Jaga anak kita.....'

Lalu mertuaku datang, menuntunnya mengucap syahadat. Aku menunduk perih dan semua tenaga dan kekuatan yang aku punya tak cukup untuk membuatku menghentikan airmata ini.

Nafas terakhirnya sudah d hembuskan. Aku tak mengerti mengapa ikhlasku masih berbuah air mata. Maaf sayang, aku tak bisa mengantarmu dengan senyuman. Dan Terimakasih kau telah menepati janjimu untuk menjadikan aku yang terakhir di hidupmu....

******

2003.
Kau menungguku di depan masjid. Kau meminta waktuku dan aku dengan senang hati memberikannya.

'Aku sudah berkali kali ikut Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Jadi kamu mau ga bantuin aku praktek?' Katanya dengan cengar cengir.

'Hah? Maksudnya?' Aku bingung.

'Ya, jadi nanti kalau kamu mau sholat aku aja imamnya. Oh iya, aku mau ngimami sholat 5 waktumu. Jadi 24jam kamu bakalan lihat wajahku. Bangun tidur lihat wajahku, mau tidur lihat wajahku, pulang kerja lihat wajahku, berangkat kerja lihat wajahku, pas masak juga lihat wajahku soalnya aku pasti suka nyomot makanan yg lagi kamu masak. Kalau kamu bingung mau masak apa, aku bakalan ngasih masukan. Kalau lampu rumah mati dan minta di ganti, aku gantiin. Kalau kamu takut kecoak aku siap kug nginjek kecoak pake kakiku. Aku siap jadi pria siaga yang bakal jagain kesehatanmu. Aku mau anak anakku lahir dari rahimmu. Tumbuh tua bersama. Saling ejek ketika sudah ubanan. Pokoknya mau kamu jadi yang terakhir untukku'

Hening. Aku masih mencoba memahami maksudnya.

'Jadi gimana sofi?' Ia menghentikan lamunanku.

'Jadi ini ceritanya kamu ngelamar aku?'

Ia menjawab dengan anggukan mantap.

'Gak mau' ia tersentak mendengar jawabanku. 'Aku ga mau kalau kamu cuma bercanda. Tapi kalau kamu serius aku mau' Dan ia tersenyum manis. Tak pernah semanis itu senyumnnya.

Kini wajah yang tersenyum itu ku kututup kain putih.

Hening membuatku sadar bahwa kini tidak ada tangan yang akan menghapus air mataku lagi. Jadi aku harusnya tidak menangis lagi.

'Sayang, jika tuhan mengenalkanmu pada para bidadari. Ku mohon jangan goyah. Kelak, Nikahi aku lagi di syurga'
Read more...

Selasa, 08 Maret 2016

Kembalikan Debar di Hatiku Seperti Semula

| | 0 komentar

Setelah sekian lama hatiku kembali berdebar karena sebuah senyuman. Setelah sekian lama, ada seseorang yg menawarkan pundaknya sebagai peredam segala energi negatif yg aku hasilkan.

Aku menikmati angin yang menerpa wajahku seraya menatap punggung d depanku. Punggung seorang pria yg sedang berkonsentrasi mengendarai sepeda motor demi membuatku nyaman. Aku suka sekali memandang punggungnya. Punggung yg membuatku ingin mendekat dan bersandar. Ah apa daya?

Laju sepeda motor semakin lambat. Ia menginjak rem smpai sepeda kami berhenti di pinggir jalan dengan pemandangan yang indah. Lampu kota seakan ada d bawah kaki kami. Bintang bintang bersinar tak terhitung jumlahnya. Ia menengok ke arahku.
'I love you' katanya
Ia selalu saja begitu. Mengucapkan kata itu dengan mudah. Terdengar riang dan ringan.
'I love you too' kataku dengan riang namun tidak seringan itu. Mengatakan cinta bagiku tak pernah seringan itu. Selalu ada perasaan malu dan tulus d dalam cintaku.
Seperti biasa, setelah aku mengatakannya ia akan mengacak acak rambutku tanpa rasa bersalah setelah rambut rapiku menjadi kusut.

'I love you' ia mengatakannya lagi di depan kosku. Aku menjawabnya lirih. Sangat lirih karena merasa takut ada yang mendengar. 'I Love you too'

Aku berjalan menuju kamar dengan riang, membayangkan kembali wajah dan ekspresi yg tadi aku amati darinya. Sesampai di kamar aku terlentang namun entah mengapa atap serasa tak terlihat, justru gambaran kenangan yg telah aku lalui dengannya yg terlihat jelas. Kata kata cintanya masih menggema di kepalaku....aku terpesona dengan debar di hatiku. Hingga gelap dan lelap.

Pagi hari aku masih terbangun dengan mengingatnya. Tiap kali mengingatnya aku hanya ingin tersenyum. Setelah merapikan rambut aku mencari handphoneku, sebuah pesan belum terbuka darinya. Aku bergegas membukanya dengan riang.

'Mantanku ingin kembali, aku harus bagaimana?'

Riangku di renggut sepagi ini. 'Aku harus bagaimana?' Ia tak akan mengatakan itu jika merasa mantap telah melupakan masalalunya. 'Aku harus bagaimana?' Kau tak perlu mengatakan itu jika kau sungguh sungguh mencintaiku. 'Aku harus bagimana?' Tak bisakah kau ubah kalimat itu menjadi 'dan aku tak mempedulikannya'. 'Aku harus bagaimana?' Hey, kau tak harus bertanya padaku.

Aku ingin sekali mengatakan ini padamu.
'KEMBALIKAN DEBAR D HATIKU SEPERTI SEMULA'
Tapi yang bisa ku kirim

'Jika kau memang masih memikirkannya, fikirkan untuk kembali. :)'

Dan hancur sudah debar itu.
Read more...

Rabu, 17 Februari 2016

Passion

| | 0 komentar

                Kenikmatan yang dimiliki oleh manusia adalah memiliki passion dan kesempatan untuk memilih. Walau keduanya selalu dihadang oleh trend (gaya hidup). Itulah yang membuat manusia terkadang tidak mengikuti passionnya justru memilih gaya hidup yang di pandang lebih baik. Waktu penelitian di salah satu kantor pemerintahan yang intinya menggali motivasi kerja pegawai dan mengalisis karyawan ini cenderung malas atau rajin (ini penelitian yang paling seru), aku pernah membuat sebuah pertanyaan.

‘Apakah bapak menyukai pekerjaan bapak?’ mungkin ini pertanyaan cenderung sederhana dan bahkan kalau denger gitu kita bakalan mikir, apaan sih pertanyaannya kug ga penting begini? Tapi bakalan bikin orang kesulitan jawab. Dari 13 orang yang sudah aku sodorin pertanyaan ini sebagian besar selalu merenung lama sebelum menjawab pertanyaan ini. Ini pertanyaan sejenis yang selalu keluar ketika wawancara kerja ‘coba ceritakan tentang diri anda sendiri’ atau ‘menurut anda, anda ini orang yang seperti apa?’. Manusia khususnya yang hidup dinegara kita ini cenderung suka NGURUSIN URUSAN ORANG sampai menderita rabun dekat dan lupa tentang dirinya sendiri. Oleh karena banyak yang masih kesulitan menjawab pertanyaan ‘Apakah bapak menyukai pekerjaan bapak?’ atau ‘menurut anda, anda ini orang yang seperti apa?’ karena pertanyaan itu lebih sulit dari pertanyaan ‘apa nama bulu mata syahrini?’ hahahahahaha.

Singkat kata bapak yang tadi aku ceritain jawab ‘tidak, saya tidak menyukai pekerjaan saya karena bukan merupakan passion saya. Saya lebih suka bekerja di luar ruangan’ ini bapak keren loh. Blak blakan dan jujur sekali. Ga muna d banding karyawan lain yang masih mikir lama demi pencitraan. Nah, ini salah satu contoh orang yang mendapat pekerjaan tidak sesuai passionnya. Dan aku telah belajar dari beliau, makanya lagi berusaha gila gilaan biar dapet kerja sesuai passion. Walau ada aja yang suka bikin gatel telinga gitu dengan bilang ‘haduh ini lulusan ekonomi kenapa ga wirausaha aja? Buka lapangan pekerjaan. Apa enaknya kerja sama orang?’ ini kata yang paling malesin yang pernh aku denger. Emang banyak yang bilang ‘kenapa ga wirausaha aja sambil nunggu dapet kerja? Kamu kan bisa bikin ini, bikin itu...’ nah kalau ngomongnya alus gini sih masih mau lah dengerin ga risih juga. Tapi kalau bawa-bawa fakultas sama jurusan itu loh, rasa e pengen minta dibeliin es krim karena dia udah bikin moodku jelek. Wkwkwkwkwkwkwk

Wirausaha belum jadi passionku. Mungkin kelak kalau sudah bekerja beberapa tahun berbisnis mungkin jadi pilihan tapi sekarang belum lah. Belum pengen. Masih pengen tau rasa e jadi karyawan sebelum jadi bos dan punya banyak bawahan. Hahahahaha
Wirausaha atau menjadi karyawan sama susahnya lah. Yang bikin susah sebenarnya kita sendiri sih. Kan sebanding sama kualitas diri kita. Kalau sudah punya modal dan jaringan luas jadi wirausaha mungkin ga akan sesusah itu. Pun kalau toefl dan karakter kita sesuai dengan yang perusahaan cari, ga akan susah jadi karyawan.

Jadi intinya kalau ga bisa dukung apa yang di inginkan seseorang ya ga usah ngurusin lah ya. Bad habit iku...



Read more...

Selasa, 16 Februari 2016

Hati yang Baru

| | 0 komentar

Kadang aku merasa kau begitu sempurna sedangkan aku tak mampu menulis dengan sempurna.  Aku selalu berusaha menulis sesuatu tentangmu, namun mendeskripsikan perasaanku kepadamu lebih rumit dari pada mencari jarum dalam tumpukan jerami. Hingga hari ini aku menemukan sebuah korek api dan sebatang magnet. Ku rubah kerumitan itu dengan membakar tumpukan jerami dan menyisir abu itu dengan sebatang magnet. Dan akhirnya aku menemukan beberapa jarum di batang magnet. :D

            Dulu aku merasa sudut hatimu selancip jarum walau perawakanmu selembut malaikat. Tapi semua yang memiliki hati memiliki potensi untuk menyakiti dan di sakiti. Aku begitu waspada kepadamu, membuat banyak alasan untuk tak disisimu. Karena sesungguhnya kau terlalu asing dan aku takut terlalu cepat menyukai orang asing.

            Ada kalanya aku terjebak dalam masa sulit yang tak bisa ku ceritakan pada siapapun. Disaat itulah kau selalu hadir. Meski aku tak menceritakan apapun, kehadiranmu cukup menghibur. Dengan bahasa yang halus dari cerita cerita hidupmu membuatku merasakan kelembutan hatimu. Caramu memperlakukanku membuatku merasa seperti seorang wanita. ^_^


Senyum itu seperti yang ku harap dalam imajinasiku. Sesuatu yang ku peroleh usai ratusan hari dari belasan bulan mencoba meyakinkan diri. Aku seperti mendapat tempat baru untuk meluapkan cerita-cerita konyol tentang imajinasiku. Seperti menemukan tempat hati baru yang indah.
Read more...

Hati Yang Lain

| | 0 komentar



            Aroma farfum yang menyeruak melalui jendela kelas seperti perpaduan permen karet dan teh. Ku perhatikan seorang wanita berlari bersama gerombolan teman sebaya yang berpenampilan tak kalah profesional dengan para model. Semua pria pasti menyukainya. Fikirku. Dan mataku masih memburu ruang lain selain tempat dimana aku duduk hari ini. Kelas.
Hatiku menggebu-gebu mendengar lantunan lagu paramore dan seirama dengan itu pula aku memikirkan seseorang, di waktu yang tak tepat. Tapi aku tak bosan melakukannya. Terlalu sering melakukannya. Hingga kehilangan waktu untuk memikirkan diriku sendiri.Kini aku merasa sedang di permainkan dan di atur oleh hatiku.
            Ia yang berkaca mata dan gemar tersenyum juga tertawa setiap kali aku mencoba menertawakan kehidupan. Ia yang hidupnya bahagia dan memiliki segalanya. Aromanya seperti perpaduan lemon, minuman bersoda dan permen mint. Bergerak lincah seperti seorang anak yang baru saja mendapat seragam putih-abu abu. tatap matanya seperti percampuran antara ketulusan, kewaspadaan dan keingintahuan, sesekali ia suka menatap seperti sedang menghakimimu. Ia akan tertawa untuk banyak hal yang lucu. Yang paling menarik darinya adalah sesuatu yang tidak aku ketahui darinya. Sesuatu yang ia fikirkan. Dan sesuatu yang aku benci adalah perasaan ‘ingin tau’ yang aku pelihara.
            Jam kosong 1,5 jam. Aku menghabiskannya dengan mesin sederhana. Dengan jari yang menempel di beberapa titik demi merumuskan huruf A sampai Z menjadi sesuatu paragraf yang bisa mendefinisikan perasaanku. Aku menikmatinya sendiri. Tak bersedekah dengan kebosanan yang aku miliki.
            Tiba-tiba aku marah dan kesal. Jadi aku ingin sekali meninggalkan kelas dan tidur. Aku berharap bangun satu minggu kemudian agar tak memikirkan banyak Variabel. Dan ku putuskan untuk benar-benar meninggalkan kelas.
######
Dari sudut lancip yang di bentuk oleh persegi yang terbuat dari balok berukuran 5 cm sedang di tengahnya terdapat kaca buram setengah kusam berukuran 25cm x 25 cm dan besi sepanjang telapak tangan sebagai penopangnya, ku perhatikan pria berkacamata itu  tengah asyik menjelajahi isi buku setebal kulit yang bisa aku cubit dari pipiku. Punggungnya seperti lensa cembung yang di gambar oleh guru fisikaku dan kursi yang ia duduki, tak sempurna mengarah ke kolong meja. Ujian lebih dekat dengannya di banding aku. Meski merasa tak  bisa membantu dan hanya bisa merindukannya, aku tak berani memintanya untuk memandangku beberapa menit saja dan mengatakan ‘ aku menyayangimu’ seperti saat ia jauh dengan sesuatu yang bernama ujian. Sesuatu yang telah merenggutnya dariku.
            Hari ini senja terlambat datang dan ia tak ingin kalah dari senja. Aku bosan mengarahkan lenganku untuk memandangi bulatan kecil yang menggulung lengan demi menghitung berapa waktu yang telah aku buang untuk menunggu kedatangannya.
            ‘Sayang Maaf, sepertinya aku tak bisa bertemu denganmu’
Begitulah pesan singkat yang aku baca. Tak panjang memang, tapi cukup hebat untuk membuatku merasa dipermainkan. Pada akhirnya angin dan lelehan kekesalan merusak riasanku sebelum akhirnya aku membuang segala kekecewaanku. Kali ini aku kembali bertahan karena aku merasa ia yang terbaik. kali ini  mengalah pula untuk tak berdebat dengannya. Kali ini tersenyum lagi demi membuat ia merasa akulah yang paling mengerti dirinya.
            ‘Kebetulan kalau begitu, Ibu memintaku membantunya memasak untuk makan malam. Jadi ku kira kita memang tidak akan bertemu’
Aku membalasnya dengan kebohongan. Kebohongan yang membuatnya jauh dari rasa bersalah. Dan aku masih terpaku menatap senja yang datang terlambat, setidaknya senja datang, tapi dia tak datang. Ku kira tak apa jika ia terlambat dan membuatku menunggu asalkan pada akhirnya dia datang. Setidaknya itu lebih baik.
Pada akhirnya warna yang di hadiahkan senja membuat wajahku terlihat menyedihkan.
######
            Bukan hanya di tempat yang sama ku lihat ia bersama seorang wanita cantik yang pipinya selalu merah merona tiap kali tersenyum. Wanita dengan aroma mawar dan lily yang di tumbuk halus . Seseorang yang mungkin di idamkan kebanyakan pria. Dan priaku bersamanya hampir setiap hari, membaca buku yang sama, duduk di kelas yang sama, membicarakan hal yang sama. Mungkin merasakan hal yang sama pula.
            Bukan kali pertama pula semua orang berbicara tentang priaku tengah bersama dengan wanita itu. Wanita yang membuatku merasa tak lebih baik darinya. Wanita cantik, siapa yang tak mau? Orang bodoh tentunya. Dan yang terbodoh adalah aku yang tak bisa membela perasaanku sendiri. Ayolah...!! Cemburu bukan hak seorang kekasih. Cemburu itu hak seorang Istri. ‘Gerutuku’
            Semua sudut menjadi lancip, semua lensa menjadi buram, dan semua warna menjadi pekat. Aku benci ketulusanku kepadanya dan samarnya perasaannya,  juga ketidak beranianku untuk bertanya ‘Apakah kau masih menyukaiku?
            Aku mendapati sebuah pemandangan yang membuatku ingin berhenti bertahan dari kebodohanku. Dari sebuah payung berwarna pink yang ia gunakan berdua dengan seorang wanita cantik sambil setengah berlari, ku lihat wanita itu menggenggam tangan kirinya dengan penuh perasaan dan ia tak mengelak. tak merespon. Itu lebih menyakitkan. Tak peduli siapapun yang memulai. Yang jelas aku benci caranya. Aku benci ketidak mampuannya menangkis rumor yang mengatakan dia dan wanita itu adalah sepasang kekasih yang serasi. Lebih serasi dari aku dan dia. aku benci ketidak mampuannya mengatakan apa yang ia rasakan padaku dan pada wanita itu. Pecundang.
Aku merasa hatiku tak lagi hangat. Hatiku lebam. Jadi yang terasa hanya sakit.

######

‘Apa hari ini menyenangkan?’ ia bertanya seolah ia tak tau bahwa hari-hariku berantakan karenanya. Benar benar berantakan.
‘Tentu, salah satu teman kelasku selalu menemaniku. Jadi aku tak perlu merasa bosan. Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?’ kataku seraya melempar senyum ke arahnya sesekali menatap matanya dan ia tertunduk penuh penyelasan.
‘Maafkan aku, aku belum benar benar menyukainya. Aku mencoba menahan diri sekuat yang ku bisa untuk tak menyakiti siapapun’ katanya.
Maaf???  Kata itu cukup untuk mengakui dan menjelaskan semua keadaan yang dulunya samar.
‘Tak apa....!! aku juga memiliki hati lain yang ingin aku miliki. Kau tau? Pindah kelain hati itu seperti sedang asyik bermain gitar namun di tengah permainan kau salah menekan jarimu di senar sehingga nadanya sumbang. Kita tak sengaja melakukannya. Kita tak sengaja pindah ke lain hati’ kataku.  Dan Suara angin tak dapat memecahkan kesunyian.

Setidaknya aku mengimbangi permainannya dengan kebohonganku. Setidaknya di detik terakhir aku menyelamatkan harga diriku. Setidaknya aku tak terlihat menyedihkan dengan ketulusanku. Dan setidaknya berakhir pula keresahanku tanpa perlu banyak bertanya.
Read more...

Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About

Dyah Qurratu A'yunin S1 Manajemen Kediri https://www.facebook.com/DyahQAyunin https://twitter.com/DQ_Ayunin
Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post Via Labels

Instagram Photo Gallery

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©